Sering Digoda, Buktikan Ruang Publik Tak Aman Bagi Anak Perempuan

JawaPos.com – Anak perempuan masih belum mendapat jaminan keamanan saat berada di ruang publik. Orang tua harus tetap waspada saat melepas mereka bermain di ruang publik, sebab banyak predator yang mengintai anak perempuan.

Dalam rangka Hari Anak Perempuan Internasional (International Day of The Girl/IDG) 2018 pada 11 Oktober, para orang tua diimbau untuk waspada, tak hanya di ruang publik, tetapi juga di dunia maya. Saat ini semakin banyak anak menjadi korban kekerasan dan pelecehan seksual secara siber.

“Pada IDG 2018 yang mengangkat tema ‘Kota Aman untuk Anak Perempuan’ kami menyoroti, ruang publik dan fasilitas umum masih belum sepenuhnya memenuhi hak anak, terutama anak perempuan. Misalnya saat anak naik kendaraan umum, atau digoda dengan kekerasan dan pelecehan verbal saat berdiri di pinggir jalan,” ujar Direktur Eksekutif Yayasan Plan International Indonesia, Dini Widiastuti.

Kekerasan lain yang dihadapi anak perempuan saat ini juga terjadi di area siber. Menurutnya banyak anak menjadi korban pelecehan melalui dunia maya.

“Butuh peran semua pihak berwenang untuk sama-sama peduli melindungi anak perempuan dari kekerasan baik verbal maupun fisik,” tuturnya.

Hal ini sejalan dengan hasil polling Yayasan Plan International Indonesia bekerja sama dengan U Report yang baru-baru ini dirilis. Hasilnya ditemukan bahwa transportasi dinilai sebagai fasilitas publik yang paling tidak aman bagi anak.

Rangkaian kegiatan perayaan IDG 2018 sendiri bertujuan untuk mensosialisasikan kepada masyarakat umum untuk bersama-sama menciptakan kota aman untuk anak perempuan serta mendorong partisipasi masyarakat demi kesetaraan anak perempuan.

Selain di Jakarta, perayaan IDG 2018 juga dilakukan di wilayah area kerja Yayasan Plan International Indonesia di Nagekeo, Lembata, dan Soe pada 12-13 Oktober dengan melibatkan anak-anak perempuan. Aktivitas yang dilakukan diantaranya dengan memberikan penghargaan kepada anak-anak perempuan yang aktif menyuarakan hak anak.

Mereka juga akan melakukan diskusi dan audiensi dengan pemerintah di daerahnya masing-masing untuk menghasilkan rekomendasi demi terciptanya ruang yang aman untuk anak perempuan dan perempuan muda.

(ika/JPC)