Kisah Yuli Sumpil, Dirigen Aremania yang Disanksi PSSI Seumur Hidup

Yuli Sumpil, nama yang sangat akrab di telinga Aremania. Dia dikenal sebagai dirigen suporter saat pertandingan Arema FC. Hanya kepadanya puluhan ribu Aremania tunduk. Kini, lajang 44 tahun itu dihukum PSSI seumur hidup tak boleh masuk di stadion manapun di seluruh Indonesia.

Dian Ayu Antika Hapsari, Malang

JawaPos.com – Yuli Sumpil tampak biasa saja ditemui di rumahnya, Jalan Sumpil Gang 1 Kota Malang, beberapa waktu lalu. Dia terbuka menerima kedatangan wartawan. Seolah tidak terjadi apa-apa. Seolah dia tidak sedang mengalami kekecewaan akibat sanksi dari PSSI.

Yuli Sumpil, Arema FC, Aremania, Dirigen Aremania, PSSI, Komdis PSSI, Sanksi Seumur HidupYuli Sumpil bersama salah seorang Aremania (Tika Hapsari/JawaPos.com)

Namun, ketika mendengar dari suaranya, laki-laki yang sudah menjadi Aremania sejak kelas 5 SD itu menyimpan duka. Bagaimana tidak, Yuli sudah mengabdikan diri hampir seumur hidup, selalu mendukung pertandingan Arema FC di stadion dan menunjukkan kecintaan kepada tim kesayangan. Namun, kini harus dipisahkan dengan Arema FC.

Yuli harus menelan pil pahit dengan keputusan PSSI yang melarangnya masuk ke stadion manapun di Indonesia seumur hidup. Keputusan itu diambil usai terjadinya insiden antara Arema FC kontra Persebaya Surabaya di Stadion Kanjuruhan, Sabtu (6/10) lalu. Dia masuk ke lapangan dan dianggap memprovokasi pemain Persebaya yang tengah melakukan pemanasan.

Pemilik nama asli Yuli Sugianto itu mengaku pasrah dan akan menjalani hukuman berat yang dijatuhkan oleh PSSI. Pascakeputusan, sudah banyak Aremania yang memberikan dukungan kepadanya. Mereka memberikan support agar dia tetap legowo.

Bahkan, dukungan tidak hanya datang dari Aremania. Tapi juga dari Jakmania hingga suporter dari negara tetangga seperti Malaysia dan Vietnam.

“Banyak yang datang. Ada yang akan aksi juga. Kalau mau aksi, monggo, saya nggak meminta. Saya respek,” katanya.

Lantas, bagaimana nanti Yuli akan mendukung tim kesayangannya bertanding? Dia yakin nanti akan ada jalan baginya mendukung tim. “Wallahualam, saya yakin ada jalan. Sekarang yang saya pikir adalah tim, ini berat,” katanya dengan suara dalam.

Bukan kesedihan karena sanksi yang menimpanya. Untuk hal itu, Yuli mengaku tidak sedih, tidak menyesal, dan tidak akan meminta maaf kepada siapapun.

“Jarno, aku ae sing kenek sanksi. Aku trimo, gak popo (Biar saya saja yang kena sanksi. Saya terima, nggak apa-apa),” kata laki-laki yang sudah jadi dirigen Aremania sejak 1997 itu.

Bahkan, sebelum sanksi dijatuhkan, laki-laki yang pernah melakoni pekerjaan sebagai pencuci angkot itu sudah menyangka bakal kena hukuman.

“Saya sudah merasa. Nggak tahu, merasa saja,” kata laki-laki yang pernah berjualan kue untuk menonton pertandingan itu.

Hanya saja, yang disesalkan oleh pemain film The Conductor itu, adalah sanksi yang berat untuk Arema FC. Selain didenda uang sebesar Rp 100 juta, Singo Edan juga harus bermain tanpa suporter hingga Liga 1 2018 berakhir.

Bayangkan, Arema FC yang dipuja-puji karena kesolidan suporternya, tim yang memiliki pendukung loyal dan garis keras, harus dihukum bermain tanpa penonton. Keputusan itu yang disesalkan oleh Yuli. Karena, di pertandingan Arema FC vs Persebaya, tidak ada Bonek yang dipukuli. Juga tidak ada korban nyawa. Selain itu, jika dibandingkan dengan pertandingan Arema FC di kandang Persebaya, banyak perlakuan buruk yang diterima Arema FC.

Misalnya saja logo yang disobek, gawang dikencingi suporter lawan, pemain yang mendapatkan perlakuan buruk. Selain itu, juga maskot Persebaya yang (maaf) mengacungkan jari tengah.

“Bayangkan, selama 90 menit lebih Arema FC mendapatkan perlakuan seperti itu. Apa nggak parah. Panpel diam saja. Aku nggak mencari pembenaran untuk diri sendiri. Tapi PSSI tolong lihat ini juga. Jangan hanya lihat negatifnya, tapi ada positifnya. Tidak ada Bonek yang meninggal,” beber Yuli.

Saat ini yang dipikirkan Yuli adalah Arema FC dan Aremania. Dalam hatinya, biarkan saja dia yang menerima sanksi berat itu. Jangan tim kesayangannya. Menurut dia, sangat berat bagi Arema FC bermain tanpa penonton. Belum lagi denda ratusan juta rupiah.

Ibarat kata, prinsip Yuli Sumpil adalah ‘sing penting Arema FC, aku gampang’. Laki-laki yang dibesarkan di lingkungan keluarga biasa itu mengaku menerima hukuman dari Komdis PSSI dan tidak akan banding.

“Ya, ini takdir sing kudu tak jalani. Nek gawe aku dewe (hukuman) aku nggak menyesal. Nek gawe Arema FC, iki berat. Tapi gawe Arema FC nggak masuk akal. Nggak ada gangguan pertandingan. (Ini takdir yang harus saya jalani. Jika untuk saya sendiri, saya tidak menyesal. Tapi jika untuk Arema FC, ini berat. Tidak masuk akal. Tidak ada gangguan pertandingan,” katanya.

Dia berharap hukuman bagi Arema FC tidak seberat itu. Setidaknya dihukum tanpa suporter dua pertandingan saja. Bukannya selama musim.

The Conductor sendiri adalah julukan untuk Yuli Sumpil. Kiprahnya bersama beberapa dedengkot Aremania pada kisaran 1990-an mampu mengubah wajah suporter Indonesia kala itu.

Yuli Sumpil bisa dianggap sebagai pelopor suporter kreatif Indonesia. Salah satu lagu yang sering dinyanyikan oleh suporter Indonesia adalah ‘Ayo-ayo Arema, sore ini kita harus menang’. Lagu itu kemudian diikuti oleh beberapa suporter tanah air bahkan juga untuk Timnas Indonesia.

Kemudian aksi koreografi menggunakan tangan, beberapa gerakan tangan yang diperagakan Yuli mampu memperindah tarian suporter di stadion. Selain itu, Yuli Sumpil lah yang memperkenalkan kultur mania pada sepak bola Indonesia.

Aksinya pada awal 2000-an membuat kagum Ketua Umum PSSI kala itu, Agum Gumelar. Aremania kemudian diberi predikat suporter terbaik Indonesia bahkan Asia Tenggara.

Pehobi burung berkicau itu bisa dibilang menjadi saksi hidup perjalanan Arema FC. Pahit dan manis, jatuh bangun tim itu selalu diikuti laki-laki yang identik dengan topi serta kacamata hitam itu.

Yuli Sumpil menjadi saksi Arema FC juara Galatama pada 1992. Kisah pahit degradasi ke Divisi Satu pada 2003, Yuli masih setia mendampingi. Dia juga menjadi saksi Arema FC kembali ke Divisi Utama setahun kemudian. Juara Copa Dji Sam Soe dua kali pada 2005 dan 2006 juga dia rasakan.

Sanksi larangan masuk ke stadion selama dua musim untuk Aremania pada 2008 pernah menghiasi perjalanannya sebagai dirigen Aremania. Namun, tidak membuat Aremania mundur. Di bawah komando Yuli, Aremania tetap memberikan dukungan meski tanpa atribut. Puncaknya adalah mengawal Arema FC menjadi juara Liga Indonesia pada 2010.

Loyalitas, kebanggaan, cinta kasih, dan harga diri adalah semangat yang dibawa Yuli Sumpil dalam memberi dukungan kepada Arema FC. Sampai pada akhirnya, dia mendapat sanksi berupa larangan masuk stadion di seluruh Indonesia seumur hidup. Yuli Sumpil dengan besar hati menerima sanksi tersebut. Namun, dukungannya untuk Arema FC tak akan pernah luntur.

(tik/JPC)

Cara DAFTAR POKER Domino Qiu Qiu Capsa Susun Online Indonesia di Situs Agen Judi Terpercaya Assosiasi Resmi Dewapoker IDN Bank BCA, BNI, BRI dan Mandiri.