Curhat Joy Wahyudi Sebelum Mundur Dari Kursi Dirut Indosat Ooredoo

Jakarta, Selular.ID – Pekan ini posisi orang nomor satu di Indosat Ooredoo menjadi kosong. Pasalnya, Joy Wahyudi memutuskan mundur. Padahal, Joy baru mengemban posisi sebagai direktur utama pada 11 November 2017.

Bisa dibilang ini adalah rekor jabatan dirut tersingkat. Tak hanya di Indosat namun juga operator di Indonesia. Dirut Indosat Ooredoo sebelumnya adalah Alexander Rusli.

Setelah menjabat sebagai komisaris utama, Alex turun gunung. Ia memimpin perusahaan telekomunikasi milik Qatar itu hingga lima tahun (2012 – 2017). Alex menggantikan dirut sebelumnya, yakni Harry Sasongko yang menjabat pada periode 2009 – 2012.

Dari pesan WA yang langsung dikirim ke saya (26/9/2018), Joy sendiri mengakui bahwa keputusan pengunduran dirinya sudah ia sampaikan sejak Agustus lalu. Manajemen Ooredoo Group pun telah menerima pengunduran dirinya itu. Perusahaan pun bersiap menggelar RUPSLB, pada 18 Oktober mendatang untuk mencari sosok pengganti dirinya.

Lantas apa sesungguhnya yang membuat Joy memutuskan untuk mundur? Hingga saat ini, Joy tak pernah terbuka menyangkut dasar dari keputusannya tersebut.

Hanya saja pada awal September 2018, saya pernah berdiskusi dengan pria ramah ini di kantor pusat Indosat Ooredoo tentang masa depan industri selular Indonesia.

BACA JUGA:  Jaringan Baru 4G Plus Indosat Ooredoo Rambah Wilayah Sulawesi Selatan

Joy menampik bahwa industri selular Indonesia telah memasuki masa sunset. Pandangan yang dilemparkan sejumlah kalangan itu dinilainya sangat keliru. Pasalnya, dengan meningkatnya permintaan smartphone, pasar masih sangat terbuka luas karena pertumbuhan layanan data yang sangat tinggi.

“Layanan legacy yakni voice dan SMS memang turun dan tak lagi menjadi key driver. Namun sejak lima tahun terakhir, layanan data tumbuh eksponensial sehingga operator punya kesempatan memperoleh revenue dari bisnis baru itu”, ujar Joy.

Sayangnya, Joy menyebutkan bahwa struktur industri dan tarif menghalangi operator menangguk keuntungan. Ia menunjuk jumlah operator yang terlalu banyak menjadi biang keladi dari munculnya kompetisi yang semakin tak sehat belakangan ini.

Perang tarif yang merebak pada 2007, sulit untuk dihilangkan. Pasalnya. operator terus dipaksa menjaga kinerja dan jumlah pelanggan sebagai bagian dari value perusahaan. Meski itu sebenarnya tidak mencerminkan fundamental perusahaan.

Operator sebenarnya menyadari bahwa praktek penerapan tarif murah tidak menguntungkan. Namun, kompetisi yang ketat, membuat sebagian operator seolah tak punya pilihan, selain menjadikan harga sebagai instrumen untuk meraih pelanggan.

Sayangnya, di era data, penerapan tarif murah tetap marak. Padahal, tarif paket data retail yang dibandrol operator kebanyakan masih di bawah ongkos produksi.

Alhasil, operator pun terjebak pada efek gunting (scissor effect), dimana trafik data melesat semakin tinggi, sementara revenue operator datar-datar saja, malah cenderung menukik.

Di sisi lain, agar bisa leading di era data, operator dipaksa untuk terus berinvestasi. Jika nekat mengurangi Capex (capital expenditure), operator bisa kehilangan momentum untuk meraih dan mempertahankan pelanggan berkualitas.

Menurut Joy, saat ini sudah waktunya bagi operator untuk menaikan tarif data jika tidak ingin terus terusan merugi. Ia menilai tarif data yang dipatok operator sudah tidak masuk akal. Idealnya tarif rata-rata untuk 1 GB adalah tidak kurang dari Rp 30.000. Dengan tarif sebesar itu, operator baru memperoleh cuan (keuntungan).

Joy pun menegaskan upaya Indosat untuk memperbaiki struktur tarif sudah dilakukan sejak memasuki kuartal kedua 2018. Secara bertahap, pihaknya sudah menaikkan harga tarif data, 10-30 persen.

Joy pun meyakini sesungguhnya masih terdapat ruang bagi operator untuk menaikkan harga paket data. Konsumen juga menyadari bahwa kualitas layanan akan sebanding dengan harga yang dibayarkan.

Dari sisi industri, dia menyebut saat ini menjadi momentum yang tepat memperbaiki harga setelah terdampak kebijakan registrasi kartu SIM prabayar. Jika operator tak bisa meraup pendapatan yang signifikan, maka investasi pun menjadi terhambat. Operator juga kesulitan dalam merawat jaringan sehingga berdampak pada menurunnya kualitas layanan.

BACA JUGA:  Telkomsel Jawara ARPU Industri Selular

Sayangnya, kenaikan secara bertahap yang dilakukan Indosat justru direspon berbeda oleh operator lain. Alih-alih ikut memperbaiki struktur tarif, ada operator yang justru menurunkan tarif data demi meraih pelanggan baru. Ini jelas menjadi kontra produktif, karena industri tak akan beranjak dari kubangan kesulitan keuangan.

Memang, dengan jumlah pemain yang surplus dan tarif data yang rendah, tak mudah bagi Joy mengembalikan kesehatan Indosat. Tengok saja, dari sisi pendapatan operasional, pada kuartal I/2018 Indosat baru mengumpulkan Rp5,69 triliun atau turun 21,9% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu yakni Rp7,29 triliun.

Sementara itu, penurunan juga terlihat pada EBITDA yakni Rp1,94 triliun pada kuartal I/2018 atau turun 37,3% dibandingkan dengan kuartal I/2017 dengan Rp 3,1 triliun.

Alhasil, Indosat pun menanggung rugi bersih sebesar Rp506 miliar. Padahal pada periode yang sama 2017, perusahaan masih mencetak laba bersih Rp 174 miliar.