Orang Indonesia Ini Mampu Kembangkan Platform Teknologi Canggih

Jakarta, Selular.ID – Beberapa hari ini sedang beredar luas di media internasional tentang keberadaan Splend (http://www.splend.io), yaitu suatu terobosan baru platform jaringan blockchain yang akan memberikan kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah yang sering dihadapi, seperti dalam hal skalabilitas, keamanan dan latensi.

Saat ini, jaringan blockchain memasuki kondisi yang sama seperti pada era Internet ditahun 90-an, dimana problem kelambatan, ketidakamanan, dan biaya tinggi menjadi isu penting. Hal ini menyebabkan infrastruktur blockchain mengalami tantangan terhadap terhambatnya kelanjutan pengembangan dan adaptasi secara masif.

Splend dengan motto “We Blockchain Blockchains” justru hadir menjawab tantangan tersebut, dan berkeyakinan akan mendorong percepatan berkembangnya jaringan blockchain di mana-mana hingga seperti komputer dan Internet saat ini.

Tidak banyak yang tahu bahwa ada seorang warga negara Indonesia yang merupakan sosok dibalik kesuksesan platform Splend yang fenomenal, yaitu Rick Bleszynski, pendiri dan CEO Splend, seorang WNI yang sejak tahun 1978 tinggal di Silicon Valley Amerika Serikat, dan selama hampir 30 tahun berkarya di bidang pengembangan teknologi mikroprosesor dan infrastruktur internet.

Rick adalah pendiri dan mantan Chairman Bay Microsystems, dan sebelum itu pendiri dan CTO Softcom Microsystems yang diakuisasi oleh Intel Corporation pada tahun 1999. Rick juga sempat berkarir sebagai mikroprosesor arsitek di beberapa perusahaan besar IT seperti LSI Logic Corporation dan Velonex Corporation, di mana karya-karya Rick merupakan terobosan baru di eranya dan memberi kontribusi dalam pencapaian penguasaan pasar yang signifikan, serta keuntungan besar secara finansial.

Rick memiliki 8 paten terdaftar di Amerika Serikat yang terkait dengan prosesor dan jaringan pita lebar (broadband network), diantaranya adalah patent #7,742,405 dan #7,310,348 untuk Network Processor Architecture dan patent #6,311,212 untuk System and Methode for on-chip Storage of Virtual Connection Descriptors.

“Saya bersyukur beberapa teknologi karya saya dapat memberi kontribusi bagi pengembangan beberapa perusahaan besar IT di Amerika seperti LSI Logic, Intel, Cisco dan lainnya, yang diproduksi secara massal untuk kebutuhan swasta hingga pemerintah Amerika, dan siapapun di dunia yang membutuhkan pengembangan dalam infrastruktur IT,” ujar Rick.

Splend telah mengembangkan platform teknologi yang dinamai Integrated Blockchain Architecture atau IBA, sebuah pendekatan sistem terskala yang membagi fungsionalitas blockchain antara perangkat lunak dan perangkat keras untuk memecahkan masalah bottleneck yang kerap terjadi dan memberikan kinerja transaksi yang optimal.

IBA mampu memproses transaksi blockchain secara cepat untuk jutaan pengguna dan piranti secara simultan.

“Kami yakin bahwa blockchain akan menjadi jaringan baru yang terpercaya, sehingga harus mampu memproses ratusan juta transaksi per detik untuk jutaan pengguna secara simultan.” jelas Rick.

Dalam waktu dekat, Splend juga akan merilis layanan finansial lainnya, diantaranya CryptoLEND (untuk pinjaman), CryptoMERCHANTPAY (untuk pembayaran merchant), CryptoCARD (untuk kartu debit dan Gift cards, CryptoAUTOPAY (untuk pembayaran otomatis), dan CryptoBILLPAY (untuk pembayaran tagihan).

Di tahun 2018 ini, Rick sukses membawa Splend ke China dan berhasil membentuk suatu kerjasama strategis dengan salah satu badan usaha China bernama Shanghai Code Center Industry, untuk mengembangkan infrastruktur jaringan generasi lanjutan menggunakan teknologi Splend IBA Flash untuk China Cable Television Network.

Rick juga berkesempatan untuk pulang ke tanah air pada tanggal 15-20 September ini. Selain akan bertemu dengan saudara-saudaranya, Rick juga sudah memiliki beberapa agenda pertemuan di Jakarta dengan pihak swasta, pemerintah, dan salah satu bagian organisasi komunitas dari komunitas besar di Indonesia.

“Saya ingin melihat perkembangan IT di Indonesia. Semoga saja juga ada kesempatan untuk saya berkontribusi di negara sendiri.”